Perang neo-merkantilisme antara kekuatan besar dunia kini semakin terasa di sektor teknologi. Berbeda dengan era merkantilisme klasik yang fokus pada emas dan koloni, versi baru ini lebih banyak melibatkan kontrol rantai pasok, subsidi industri, dan upaya membangun kemandirian produksi dalam negeri.
China menjadi salah satu pemain yang paling menonjol dalam pendekatan ini. Tingkat kemandiriannya yang tinggi di berbagai bidang membuat negara tersebut relatif kebal terhadap upaya paksaan dari pihak lain. Hal ini terlihat dari kemampuan mereka membangun ekosistem manufaktur yang lengkap mulai dari bahan mentah hingga produk jadi.
Salah satu dampak nyata dari situasi ini adalah perubahan strategi perusahaan teknologi global. Banyak perusahaan kini harus mempertimbangkan ulang lokasi produksi mereka karena risiko gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik. Misalnya, industri semikonduktor dan kendaraan listrik mulai mencari alternatif pemasok di luar China untuk mengurangi ketergantungan.
Selain itu, kebijakan kemandirian China juga mendorong negara-negara lain untuk mempercepat pengembangan kapasitas domestik mereka sendiri. Amerika Serikat misalnya terus mendorong investasi di sektor chip dan energi terbarukan melalui berbagai insentif. Langkah ini menciptakan kompetisi baru yang bisa mempercepat inovasi, namun juga berpotensi menaikkan biaya produksi dalam jangka pendek.
Di sisi lain, negara-negara berkembang yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok global harus bersiap menghadapi pergeseran. Mereka bisa kehilangan sebagian pesanan jika aliran investasi lebih banyak mengarah ke negara-negara yang dianggap lebih aman secara politik. Namun di saat yang sama, peluang baru juga terbuka bagi mereka yang mampu menawarkan stabilitas dan infrastruktur yang memadai.
Secara keseluruhan, perang neo-merkantilisme ini tidak hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi juga siapa yang paling tangguh menghadapi tekanan eksternal. China dengan basis produksi yang sudah terintegrasi tampaknya memiliki posisi yang lebih nyaman dibandingkan negara yang masih sangat bergantung pada impor teknologi dan komponen kunci.











